Selasa, 21 Februari 2012

Tuhan, Adil dan Takdir

Siang itu, berawal dari obrolan hangat seputar ulangan yang baru saja selesai dikerjakan lama-lama terciptalah obrolan ngalor ngidul dan membuat bentang benang topik obrolan menjadi semakin panjang dan bekelok-kelok hingga akhirnya kami berhenti suatu topik yang akhirnya menjadi perdebatan. Tiga lawan satu. Dua sisanya menjadi penonton.

Kami bicara tentang; Tuhan, Keadilan dan Takdir.

Si single-fighter bersikukuh mempertahankan argumennya bahwa yang namanya takdir itu tidak bisa diubah. Fix. Takdir itu bagaikan kontrak yang sudah dibuat manusia dengan Tuhannya pada masa dimana alam semesta pun sepertinya belum tercipta.

Tim oposisi beranggotakan 3 dan berketua 'si anti-telur' tetap pada pendiriannya mengatakan bahwa takdir itu dapat diubah asalkan kita berusaha dan berdoa. Ia berargumen apabila takdir tak bisa diubah maka Tuhan tidak adil.

Single fighter menganggap itu adalah alasan klise yang digunakan orang dari zaman Boedi Utomo hingga kini agar manusia mau berusaha. Klise. Sederhana. Membosankan.
Single fighter pun menjelaskan alasannya mengapa sebuah takdir tak dapat diubah. Hidup memang unfair.

Si anti telur makin tajam mengeluarkan alasan. Bukan hanya alasan bahkan, filosofi pun ia ciptakan. Lama ia menjelaskan hingga akhirnya tibalah si anti telur ini pada sebuah kalimat yang membuat single fighter terkatup bibirnya enggan berkata, diam 1000 bahasa.


      "Maneh tau, urang ga pernah nyesel ada disini"
           
                                  
      "Allah itu kaya orang tua kita. Misalnya ada anak kecil yang mau kelereng, tapi orang tuanya tau kalo anak itu dikasih kelereng, kelerengnya bakalan dimakan. Mau nangis sampe gimana juga si orang tua pasti ga bakal ngasih kelereng itu. Karena orang tua itu sayang sama anaknya, Allah juga gitu"


                                "Manusia itu ga luput dari cobaan"


  "Makanya, sekarang urang ganti doa urang setiap abis solat. Doa urang sekarang gini; Ya Allah, semoga   yang hamba inginkan adalah yang Engkau rencanakan"

      
             "Kata urang kalo takdir ga bisa diubah itu namanya ga adil" 

Si single fighter diam. Mati kutu. Diam bukan karena merasa kalah. Diam karena merasa tersentil dengan ucapan tim oposisi. Dari situ, si single fighter menyimpulkan sendiri bahwa Tuhan, Adil dan Takdir itu berjalan beriringan. 


Seirama.



Seritme.


Irama dan ritme indah itu akan terdengar nanti. Tuhan tahu tapi menunggu. Ketika waktunya tiba dan segalanya akan menjadi indah....


-------

Sepulang dari sekolah, di dalam angkutan umum, seorang anak perempuan berseragam putih abu-abu duduk melihat dunia dengan cara pandang yang sama sekali berbeda. Memandang, bahwa keadilan adalah bagi siapa saja yang berlaku benar.

Karena Tuhan, Adil dan Takdir itu satu,


mengalir sejalan,


tak terpisahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar